liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Awal Pekan Bursa Asia Dibuka Cerah, Tapi Tidak Untuk Nikkei

Awal Pekan Bursa Asia Dibuka Cerah, Tapi Tidak Untuk Nikkei

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia Pasifik yang dibuka cenderung menguat pada perdagangan Senin (5/12/2022), dimana investor akan memantau perkembangan terkini terkait situasi pandemi Covid-19 di China hari ini.

Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka naik 2,27%, Shanghai Composite China naik 0,88%, Straits Times Singapura naik 0,19%, ASX 200 Australia naik 0,32%, dan KOSPI Korea Selatan naik 0,32%.

Namun, indeks Nikkei 225 Jepang terlihat terkoreksi, yakni turun 1,66%.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dari China, data aktivitas layanan November 2022 akan dirilis hari ini. Data aktivitas yang ditampilkan dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) versi Caixin diperkirakan akan berkontraksi lagi menjadi 47 bulan lalu, dari sebelumnya 48,4.

PMI menggunakan 50 sebagai ambang batas. Di bawahnya kontraksi, sedangkan di atasnya ekspansi.

Selain itu, para investor di Asia Pasifik juga akan memantau perkembangan terkini terkait situasi pandemi Covid-19 di China hari ini. China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, sehingga perkembangan epidemi juga perlu diwaspadai.

Seperti diketahui, China diguncang protes yang jarang terjadi pekan lalu. Aksi turun ke jalan di beberapa kota di China, termasuk Beijing, untuk memprotes kebijakan zero Covid.

The Wall Street Journal juga melaporkan bagaimana demonstrasi juga menuntut pemerintah, Xi Jinping mundur. Hal ini mengikuti aturan lockdown di negara tersebut.

Menyusul protes tersebut, pihak berwenang di beberapa wilayah China mulai melonggarkan tindakan pembatasan mereka, termasuk Shenzhen dan Beijing. Kedua kota tersebut kini telah mengeluarkan tes Covid negatif wajib untuk menggunakan transportasi umum.

Jika semakin banyak kota melonggarkan pembatasan, maka ini akan menjadi faktor positif karena dapat menggerakkan ekonomi China lebih cepat.

Di sisi lain, bursa Asia Pasifik yang secara umum cenderung menguat hari ini terjadi di tengah variasi bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, pada perdagangan pekan lalu.

Pada Jumat pekan lalu, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,1%. Namun, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup terkoreksi. S&P 500 turun 0,12% dan Nasdaq kehilangan 0,18%.

Perpecahan di Wall Street terjadi setelah rilis data pekerjaan AS yang menunjukkan peningkatan yang lebih kuat dari perkiraan.

AS melaporkan tambahan non-farm payrolls (NFP) pada November 2022 mencapai 263.000. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 200.000. Tenaga kerja AS yang ketat tetap menjadi perhatian karena Fed dapat sekali lagi menaikkan suku bunga secara agresif.

Padahal, Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell pekan lalu mengisyaratkan akan memoderasi kenaikan suku bunga.

Namun, menurut Michael James, Managing Director perdagangan saham Wedbush Securities, mengatakan pergerakan pasar saham AS yang variatif pada perdagangan akhir pekan lalu menunjukkan bahwa pelaku pasar masih optimis terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Fed di masa depan.

“Pernyataan itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi sentimen negatif dari data tenaga kerja. Pelaku pasar begitu yakin dengan pernyataan The Fed sehingga mendukung pergerakan pasar saham,” kata James dikutip dari Reuters.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terus menurun secara signifikan. Pada pekan perdagangan terakhir, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 3,50%. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak 19 September 2022 atau 2,5 bulan terakhir.

Dolar AS juga terus melemah. Indeks dolar ditutup minggu lalu turun di 104,55. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak 26 Juni 2022 atau lima bulan lagi.

TIM PENELITIAN CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Kode Rahasia IHSG, Saham Asia Melonjak!

(chd/chd)