liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86

Di Tengah Ketidakpastian, BRI Optimistis Jaga Pertumbuhan

Di Tengah Ketidakpastian, BRI Optimistis Jaga Pertumbuhan

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Dunia dalam laporannya “Apakah Resesi Global Sudah Dekat?” memproyeksikan kemungkinan resesi ekonomi global pada 2023. Presiden Joko Widodo juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk optimis menghadapi situasi ekonomi tahun ini yang masih penuh ketidakpastian.

Guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga telah menjabarkan beberapa tantangan ekonomi yang akan berdampak besar bagi industri perbankan tanah air pada tahun ini.

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan tantangan ekonomi ini. Itulah resesi yang akan melanda perekonomian Amerika Serikat dan diperkirakan akan terjadi pada semester kedua tahun 2023. Hal ini dinilai akan mengganggu laju pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Kemudian tensi geopolitik masih tinggi, terutama akibat tensi dan perang di Rusia dan Ukraina. Juga antara China dan Taiwan yang mendorong terjadinya disrupsi pada supply chain, saya kira ini juga sangat menantang,” kata Sunarso dalam siaran persnya, Senin (23/1/2023).

Tantangan selanjutnya adalah tekanan inflasi global yang masih tinggi dengan respon utama bank sentral masing-masing negara adalah menaikkan suku bunga. Di Indonesia, kata Sunarso, pengurangan subsidi BBM akan berdampak pada peningkatan inflasi tahun ini sehingga meningkatkan biaya produksi, menurunkan pendapatan riil masyarakat, dan berpotensi menurunkan tabungan bank masyarakat.

Kemudian yang terakhir adalah kasus Covid-19 di China yang kembali meningkat. Hal ini tentunya akan mengganggu pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan karena China merupakan kekuatan besar selain Amerika Serikat.

Di sisi lain, dalam situasi ini beberapa negara maju memiliki peluang resesi yang tinggi. Sunarso mengutip data Bloomberg yang menyebutkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi di China, Hong Kong dan Australia mencapai 20%. Korea Selatan dan Jepang 25%, Selandia Baru 33%, Amerika Serikat 40% sedangkan Uni Eropa 50%. Sedangkan Indonesia menurutnya patut disyukuri karena kemungkinannya hanya 3%.

“Alhamdulillah, peluang Indonesia mengalami resesi hanya 3%. Kita juga bangga karena Indonesia mampu mengelola ekonominya dan mampu berintegrasi dan bersatu dengan baik. Jadi menurut saya ekonomi kita cukup kuat dan kemudian peluang terjadinya resesi ekonomi di Indonesia hanya 3%,” ujarnya.

Probabilitas persentase minimum ini didukung oleh proyeksi ekonomi makro Indonesia yang positif. Dimana pertumbuhan ekonomi tahunan pada tahun 2023 diperkirakan berada pada kisaran 4,42-5,04%, meskipun perekonomian dibayangi oleh ketidakpastian.

Dengan tantangan yang disebutkan Sunarso dan proyeksi ekonomi Indonesia, manajemen BRI setidaknya telah menyiapkan empat skenario untuk menghadapi ketidakpastian di tahun 2023. Skenario tersebut adalah mitigasi risiko dan respon strategis.

Skenario pertama adalah jika ekonomi pulih tetapi inflasi meningkat dan kualitas pinjaman memburuk. Sehingga yang perlu dilakukan bank adalah mempercepat proses write-off untuk mendapatkan recovery rate yang lebih tinggi. Kemudian pertahankan rasio cakupan yang tinggi.

“Bisa dimaklumi rata-rata bank masih menyimpan cadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas aset. Kemudian kita buat cadangan yang cukup agar nantinya bantalan tidak mendarat keras, semacam itu. Jadi bantalan halus untuk mengantisipasi penurunan,” ujar Suanso.

Dalam kondisi tersebut, perseroan memilih untuk tumbuh secara selektif dan menjalankan model credit risk enhancement. Dengan Pedoman Portofolio Pinjaman (LPG) yang diatur secara moderat. Kemudian dilakukan pemantauan kualitas kredit secara intensif.

Skenario kedua adalah jika ekonomi mulai pulih dengan inflasi terkendali dan kualitas kredit membaik. Pihaknya memberikan tiga tanggapan strategis. Yaitu untuk mempercepat proses write-off untuk meningkatkan recovery rate kemudian menurunkan coverage ratio. Kemudian melakukan penyempurnaan model risk based pricing untuk meningkatkan daya saing produk dan melonggarkan Loan Portfolio Guidelines sebagai pedoman strategi pertumbuhan yang lebih agresif.

Skenario ketiga adalah ekonomi yang tidak stabil, inflasi yang meningkat, dengan kualitas pinjaman yang memburuk. Sehingga diperlukan respon strategis terhadap pertumbuhan yang terbatas, dengan menetapkan Pedoman Portofolio Pinjaman yang sangat ketat. BRI akan menjaga coverage ratio pada level yang lebih tinggi dan memantau kualitas kredit secara intensif, melakukan simulasi dan stress test secara berkala dan berkesinambungan.

Terakhir, jika perekonomian tetap tidak stabil tetapi inflasi terkendali dan kualitas kredit membaik.

“Sehingga respon strategis BRI adalah tumbuh secara selektif, Pedoman Portofolio Kredit ditetapkan pada level yang moderat dengan menjaga coverage ratio yang tinggi jika terjadi perburukan. Kemudian melakukan monitoring kualitas kredit secara intensif dengan simulasi dan stress test secara periodik dan berkesinambungan. paling penting,” tutupnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Bos BRI Diangkat Menjadi Pemimpin dalam Pembiayaan & Pemberdayaan UMKM

(rah/rah)