liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Kata Ustaz: Menyoal Tentang Puasa Rajab

Rumah Kotor Jadi Penghalang Rezeki Datang


Jakarta

Senin (23/1/2023) bertepatan dengan 1 Rajab 1444 H. Benarkah di bulan Rajab ada puasa khusus yang setara dengan ibadah 700 tahun?

Ustaz mengatakan ingin menjawab hal tersebut, ia mengambil penjelasan dari Ustaz Syam Elmarusy. Ustaz Syam Elmarusy menegaskan dalam penjelasannya bahwa tidak boleh berpuasa karena momen ini. Namun sangat baik berpuasa karena Allah SWT.

Berikut penjelasan lengkap Ustaz Syam Elmarusy:

Alhamdulillah sudah hari senin, cerah lagi dengan bulan haram, pahalanya luar biasa. Bulan Haram berarti bulan suci, Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan bulan Rajab.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Bulan yang diharamkan memang Nabi Muhammad SAW, perbanyak puasa, ibadah, dan perbanyak amal shaleh. Para sahabat yang mengikuti Nabi Muhammad SAW, termasuk Ibnu Umar Radhiyallahuanhu, disebutkan, ‘Kamu mengharamkan ini, melarang ini, termasuk kamu melarang puasa di bulan Rajab.’ Baginda Nabi SAW bersabda, ‘Tidak mungkin aku melarangnya.’ Nabi SAW melakukannya.

Namun jika ditanya tentang dalil khusus puasa di bulan Rajab dalam kitab Nailul Authar disebutkan, ‘Sesungguhnya tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan kekhususan puasa di bulan Rajab. Namun, meskipun tidak ada redaksi atau riwayat yang shahih, tetap dianjurkan untuk berpuasa terutama pada hari Senin, Kamis, khususnya puasa Ayyamul Bidh.’

Namun apa yang telah disebutkan 700 tahun sebelumnya dalam riwayatnya dalam Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali menyebutkan, ‘Barang siapa yang berpuasa tiga hari di bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan bulan Rajab, maka dikatakan akan mendapat pahala. . 700 tahun.’

Kami tidak bermaksud menggurui atau mengajar, kami menduga mengapa sejarah ini? Karena jika 700 tahun lebih berarti dari malam Lailatul Qadr, sedangkan salah satu hari yang paling mulia adalah malam Lailatul Qadr. Sedangkan Lailatul Qadr adalah 1.000 bulan. Seribu bulan adalah 83 tahun atau 84 tahun. Sedangkan 84 kali 3 tidak sampai 700. Padahal malam yang paling mulia adalah malam Lailatul Qadar atau bulan Ramadhan.

Sehingga kami cukup curiga bahwa hadits ini tidak langsung dari Nabi Muhammad SAW. Namun, hal itu tidak membatalkan keistimewaan atau keagungan bulan-bulan yang diharamkan.

Jadi kalau temen-temen dapet sejarah, praktekin terus mau praktekan jangan puasa dulu. Puasa adalah puasa karena Allah SWT. Jangan puasa sebentar, ‘Aduh saya mau puasa di bulan Rajab,’ jangan. Puasa hanya karena Allah SWT.

Jika ya, bagaimana jika argumennya tidak kuat? Boleh saja dilakukan, tapi berharap, mengharap ridha Allah SWT. Jika benar yang dikatakan bid’ah, maka tidak semua bid’ah yang dilakukan, tidak semua perbuatan yang kita lakukan, dan tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah.

Pertama-tama, kita harus tahu. Apa itu ajaran sesat? Bid’ah adalah sesuatu yang kita tambahkan dari segi syariah. Kalau kata Imam Syafi’i. ‘Tidak semua bid’ah itu dholalah, ada juga bid’ah hasanah jika tidak terkait dengan syariah.

Di mana contoh ustaz jika Nabi tidak melakukannya, tetapi bisa melakukannya? Para sahabat sedang berdoa, Nabi membacakan ‘Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih….’ Tiba-tiba ada bidadari, 30 bidadari yang mencatat sedekah. Baginda Nabi Muhammad SAW mengatakan seusai shalat beliau langsung ditanya, ‘Siapakah saat air pasang membaca doa yang berbeda dengan apa yang saya ajarkan?’ Teman mengatakan tidak ada yang berani mengangkat tangan. Kemudian Nabi berkata, ‘Saya hanya bertanya karena tiba-tiba ada 30 malaikat yang mencatat redaksi.’ Itulah yang kami baca sampai sekarang, ‘Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi’ta min syain ba’du.’ Ternyata hal tersebut tidak diajarkan oleh Nabi, namun para sahabat melakukannya. Nabi berkata untuk memberi tahu mereka bahwa para malaikat sedang berperang untuk merekamnya.

Jadi meskipun tidak ada sejarah yang jelas sekitar 700 tahun yang lalu, mereka tetap melakukan ibadah karena ibadah adalah hal yang utama di mata Allah SWT. Jadi jangan berpuasa untuk sementara waktu.

Simak video “Jadwal Puasa Rajab, Niat Membaca dan 6 Keutamaan”
[Gambas:Video 20detik]
(nanah/basah)