liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Kilang Pertamina Indonesia Siapkan 13 Inisiatif ESG di 2023

Kilang Pertamina Indonesia Siapkan 13 Inisiatif ESG di 2023

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Kilang Pertamina Internasional (KP) sebagai Subholding Refining & Petrochemical Pertamina sedang mempersiapkan 13 inisiatif ESG yang akan diimplementasikan pada tahun 2023. Inisiatif ESG yang diberikan oleh KPI antara lain mensistemasi program keanekaragaman hayati, Beyond PROPER (limbah dan air), revitalisasi proses manajemen keamanan untuk LST Pembiayaan.

Ganda Putra Simatupang, Vice President Health Safety Environment (HSSE) KPI, mengatakan KPI sedang mempersiapkan strategi dan inisiatif ESG yang berfokus pada 10 keberlanjutan yang sejalan dengan SDGs. KPI telah membuat rencana besar proses bisnis hingga tahun 2060 terkait Net Zero Emissions (NZE).

“Hal ini akan tercermin dalam inisiatif program LST yang kami laksanakan,” kata Ganda dalam webinar bertajuk Tantangan Mengelola Isu Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola di Industri Kilang yang diselenggarakan oleh Energy and Mining Editor Society (E2S) secara virtual, (28/11 / 2022 )

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Ganda menuturkan, roadmap NZE diimplementasikan KPI melalui upaya peningkatan evaluasi produk, salah satunya produk ramah lingkungan (green product). Tidak hanya melalui produk baru, KPI juga terus melakukan penemuan, seperti mencoba teknologi baru hingga pemikiran baru. “KPI akan berubah menuju keberlanjutan. Bisnis holding Pertamina kemudian menjadi kredit karbon. Holding akan menjadi pemimpin kami,” ujarnya.

Sepuluh KPI keberlanjutan yang dilakukan adalah mengatasi perubahan iklim; mengurangi jejak lingkungan; melindungi keanekaragaman hayati; kesehatan dan keselamatan; dan pencegahan kecelakaan besar. Selain itu rekrutmen, pengembangan dan retensi karyawan; inovasi; keterlibatan dan dampak masyarakat; keamanan cyber; dan etika perusahaan.

Ganda menambahkan, investor selalu mempertanyakan kinerja perusahaan terkait kesehatan dan keselamatan. Untuk itu, KPI melakukan perbaikan yang signifikan dan cukup drastis. “Untuk kecelakaan besar, masalah utamanya ada di kilang karena itu fokus ESG. Sedangkan untuk rekrutmen, masing-masing punya KPI,” ujarnya.

Operasional dan bisnis KPI, lanjut Ganda, disesuaikan dengan rencana dan target ESG Pertamina. KPI menjadikan implementasi ESG lebih dari sekedar aksesoris atau gimmick. Jika LST tidak diimplementasikan dengan tindakan dan kebijakan afirmatif di masa mendatang, maka akan berpotensi menimbulkan risiko bagi reputasi dan aspek keuangan perusahaan.

“Kedua risiko ini harus dimitigasi secara cermat karena pembangunan kilang yang membutuhkan investasi besar membutuhkan pendanaan dari pasar atau investor strategis. Tanpa reputasi yang baik, perusahaan akan kesulitan menarik investasi,” kata Ganda.

Jalal, Praktisi ESG dan Dewan Pengawas Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICRP), mengatakan puncak implementasi ESG adalah pendanaan. Kalau tidak dapat hasil pembiayaan tentu tidak dapat keuntungan, tentu bukan ESG.

“Jadi harus memperhatikan selera pasar, di mana ada modal. Kalau Pertamina mau cari pembiayaan, yang penting diperhatikan, di mana ada uang lebih diperhatikan. Perusahaan yang ingin melakukan ESG harus fokus. ,” kata Jalal.

Mengutip S&P Global, menurut Jalal, sektor migas merupakan sektor industri dengan eksposur risiko LST tertinggi di antara semua sektor. Namun, subsektor pengolahan dinilai memiliki risiko paling rendah. “Tingginya risiko ESG di sektor migas terutama karena risiko lingkungan dan sosial yang selalu di atas rata-rata industri,” ujarnya.

Menurut Jalal, ada tiga opsi yang bisa diambil untuk mengantisipasi risiko tersebut, yakni ingin bertahan di bisnis migas, berpindah atau melakukan diversifikasi usaha secara bertahap atau bergerak cepat. “Masing-masing punya risikonya sendiri. Kalau tidak bergerak, tidak perlu Capex, tapi risikonya perusahaan mati,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

puncak! Implementasi ESG Pertamina Diakui Lembaga Internasional

(pgr/pgr)